Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Perbedaan Hacker dan Cracker




      Kita sering bertaya-taya, apasich sebenarnya arti dari hacker itu, siapa yang sebenarnya yang pantas disebut hacker itu?. Baru-baru ini juga saya ditaya teman, ‘’mang pa bedanya hacker ma cracker, trus siapa mereka?’’. Nah muncul lagi ne penjahat jenis baru di dunia maya, ‘’Cracker’’, sebenarnya gak baru juga sich. Dengan pertaya-pertayaan tersebut, saya ingin membagi informasi tentang penjahat-penjahat ini, siapa mereka, bagaimana mereka berkerja dan apa yang membedakan mereka berdua.

Hacker (English) atau dalam bahasa Indonesia peretas, adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan bisa memodifikasi atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer (program komputer) dan perangkat keras komputer, administrasi dan lainnya, terutama keamanan.

Selain itu, hacker juga sebutan untuk orang atau sekelompok orang yang memberikan sumbangan bermanfaat untuk dunia jaringan dan sistem operasi, membuat program bantuan untuk dunia jaringan dan komputer. Hacker juga bisa dikategorikan perkerjaan yang dilakukan untuk mencari kelemahan suatu sistem dan memberikan ide atau pendapat yang bisa memperbaiki kelemahan sistem yang ditemukannya.

Sedangkan cracker adalah sebutan untuk orang yang mencari kelemahan sistem dan memasukinya untuk kepentingan pribadi dan mencari keuntungan dari sistem yang dimasuki seperti : pencurian data, penghapusan, dan lainnya.

Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960-an di antara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT).Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama.

Kemudian pada tahun 1983, istilah hacker berubah menjadi negatif. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertamakalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 adalah kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut sebagai hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorian Solan-Kettering hingga komputer milik laboratorium Nasional Los Alamos. Satu dari pelakuk tersebut mendapat kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapat hukuman masa percobaan.

Hacker mempunyai konotasi negatif karena kesalahpahaman masyarakat dengan perbedaan istilah antara hacker dan cracker. Banyak orang memahami bahwa bahwa hacker yang mengakibatkan kerugian pihak tertentu, seperti menyisipkan kode virus dan mencuri sebuah data transaksi penting, dan lain sebagainya. Padahal mereka adalah cacker.

Cracker menggunakan celah keamanan yang belum diperbaiki oleh pembuat perangkat lunak (bug) untuk menyusup dan merusak sebuah sistem. Atas alasan ini biasanya para hacker dipahami dibagi menjadi 2 golongan White Hat Hackers yakni hacker yang sebenarnya dan cracker yang sering disebut dengan istilah Black Hat Hackers.

Dari penjelasan diatas bisa kita ambil kesimpulan apa perbedaan dari hacker dan cracker dan darimana asal usul merka. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah info kita semua dan menjawab pertayaan tentang perbedaan Hacker dan Cracker.


Sabtu, 29 Desember 2012

15 Ciri-Ciri Orang yang Mudah Diselingkuhi



Selama ini mungkin Anda merasa sebagai pacar yang normal, perhatian sudah Anda curahkan, kasih sayang tak pernah sedikitpun terlewatkan. Tetapi mengapa Anda masih diduakan ya? Well, mungkin Anda punya ciri-ciri berikut ini:
1. Anda terlalu mudah membiarkan orang baru masuk pada kehidupan pribadi Anda.
2. Anda merasa tidak percaya diri, minder, dan merasa tak bisa hidup sendiri.
3. Anda tahu bahwa hubungan Anda tak sehat, tetapi Anda membiarkannya saja.
4. Hampir semua hubungan masa lalu Anda bermasalah.
5. Anda terlalu mudah jatuh cinta dan terbuai oleh rayuan pria.
6. Anda senang mendengarkan pujian, dan lebih senang mendengarkan kata-kata ketimbang memperhatikan sikap seseorang.
7. Anda terlalu terbuka, dan tak segan menceritakan tentang keburukan mantan di masa lalu
8. Anda orang yang emosional dan gampang menangis
9. Anda menceritakan permasalahan Anda dengan menggebu-gebu, dan terkadang terlalu berlebihan saat menanggapi masalah.
10. Yang pertama kali Anda nilai dari seseorang adalah penampilannya.
11. Anda takut sendiri dan merasa kesepian.
12. Anda tergila-gila pada film-film drama percintaan yang mengundang air mata.
13. Anda cemburu buta.
14. Anda terlalu posesif dan takut kehilangan.
15. Anda meremehkan teman dan berpusat pada si dia saat berpacaran.

Tips Menjadi Makhluk yang Tangguh


Para pakar kejiwaan memandang pikiran sebagai faktor terpenting bagi kehidupan manusia. Hampir semua sistem kehidupan kita, gerak tubuh, suasana hati, bahkan hidup kita, dikontrol oleh pikiran. Ketika kita melihat pacar atau pasangan kita berjalan di depan kita, pikiran kita mungkin akan memerintahkan mulut kita untuk menegurnya, menyuruh kaki kita mempercepat langkah, atau meminta kita untuk tidak melakukan apa-apa.

Demikian pula halnya dengan perasaan kita, dengan informasi yang terkumpul di otak, pikiran memberikan perintah-perintah khusus kepada “hati” untuk menentukan suasana yang diinginkan. Umpamanya, suatu hari kita ditinggal kekasih, pikiran kita akan memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan kehidupan cinta kita dengannya, yang terekam oleh otak. Katakanlah pikiran kita memilih informasi yang berhubungan dengan hal-hal indah, yang pernah kita alami bersamanya. Pikiran kita akan mengolahnya dan menghasilkan instruksi, umpamanya, kita menyesal dan sedih karena semua keindahan itu harus berakhir.

Instruksi akan diteruskan ke “hati” melalui perangkat psikologis kita, dan perasaan kita pun menjadi sedih. Sebaliknya, apabila pikiran kita memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan hal-hal menyebalkan dari si dia, umpamanya hidung peseknya, kebiasaan buruknya, atau kesukaannya berutang, pikiran kita akan mengolahnya menjadi instruksi bahwa kita senang dan bahagia karena mimpi buruk itu telah berakhir. Hati kita pun senang karenanya.


Faktual dan sensitif
Bila pengaruh pikiran sangat kuat terhadap perasaan kita, berarti kita orang faktual, orang yang selalu bertindak atau bersikap berdasarkan fakta. Tetapi bila pengaruh pikiran sangat lemah terhadap perasaan kita, maka kita termasuk orang sensitif.
Orang faktual biasanya lebih mampu mengendalikan perasaan. Soalnya, pikirannya mampu mengolah fakta-fakta yang terekam di otak secara lebih mendetil sebelum dimasukkan ke “hati”.

Sebaliknya, orang sensitif akan cenderung emosional, karena biasanya pada saat merespons realitas yang
tengah dihadapi, pikirannya tidak mengolah kembali fakta-fakta yang terekam di otak, akan tetapi langsung memasukkannya ke dalam “hati” apa adanya. Ia mengolah informasi dengan perasaannya.

Untuk memperjelas, ambilah contoh seseorang tanpa sengaja melihat kekasihnya tengah duduk berdua dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin dan tidak ia kenal. Bila dia orang sensitif, otaknya merekam semua kejadian yang dilihatnya. Pikirannya tidak mengolah melainkan langsung meneruskannya ke dalam “hati” untuk diolah. Karena “hati”-nya yang mengolah, ia mungkin segera mendatangi mereka dan tanpa babibu langsung melayangkan bogem mentah.
Sebaliknya, bila ia seorang faktual, kejadian-kejadian tadi direkam di otaknya, diolah terlebih dahulu oleh pikiran sebelum diteruskan ke “hati”. Pikirannya akan membuat pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan. Bila kekurangan data, maka ia akan menghasilkan kemungkinan-kemungkinan lain. Misalnya, kemungkinan orang lain itu adalah saudara atau sahabat kekasihnya. Atau mungkin pula teman selingkuh kekasihnya. Kemungkinan-kemungkinan itu kemudian diteruskan ke “hati” sebagai perasaan ingin tahu. Karena pertimbangan pikiran inilah ia mungkin akan mendekatinya untuk mencari tahu hal sebenarnya, ketimbang langsung menghakimi.
Proses itulah yang menyebabkan orang faktual cenderung tenang, penuh perhitungan, dan mampu mengendalikan diri. Sebaliknya, orang sensitif cenderung cepat gelisah, tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, tidak sabar, dan sukar mengendalikan diri.
Persepsikan kenyataan secara positif
Dengan pengoptimalan pikiran, kita dapat mengendalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang kita inginkan. Dengan pikiran kita dapat mengubah perasaan sedih menjadi perasaan senang, takut menjadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis menjadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Maka tidak salah bila seorang filsuf, Marcus Aurelius, memiliki pandangan bahwa “Hidup kita ditentukan oleh pikiran”.
Kalau berpikir tentang hal-hal menyenangkan, maka kita akan menjadi senang.

Jika memikirkan hal-hal menyedihkan, kita akan sedih.

Begitu pula bila berpikir soal hal-hal menakutkan kita akan menjadi takut.

        Rasanya memang sulit dipercaya. Namun, itulah adanya. Stanley R. Welty, Presiden Wooster Brush Company, berpendapat, “Pada saat keluar rumah di pagi hari, kita sendirilah yang menentukan apakah hari itu akan jadi baik atau buruk, karena tergantung bagaimana kita menjalankan pikiran kita. Dapat tidaknya kita menikmati hari itu sangat tergantung pada cara kita berpikir.”
Kalau merasa kantung kita menipis, lalu mengeluh seakan-akan kita orang paling sial, bisa jadi hari itu menjadi hari paling membosankan. Tapi bila kita bangun pagi, memandang keluar jendela dan melihat bagaimana burung-burung bersiul menyambut pagi sambil merasakan kesejukan embun, tanpa mempedulikan kantung yang semakin kempis, mungkin kita akan mendapati hari itu sebagai hari baik. Bagaimana pun cuaca hari itu, bagaimana pun beratnya masalah yang dipikul hari itu, pikiranlah yang menentukan kehidupan kita. Yang kita pikirkan ketika itu, itulah hidup kita.
Yang bisa dilakukan adalah mengendalikan pikiran. Jangan biarkan pikiran kita membuat perasaan menjadi tidak enak. Senantiasa persepsikan kenyataan secara positif.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif,” kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.
Bila dalam kesedihan kita mencoba tersenyum, sebenarnya kita tengah mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih itu. Saat itu kita tengah
menetralkan perasaan negatif di dalam diri. Hal ini sangat baik dan bisa membantu agar kita tidak terlalu larut dalam duka.
Demikian pula ketika tengah dihadapkan pada masalah-masalah berat, senyum kita sedikit banyak akan membantu melepaskan ketegangan. Selanjutnya, biarkan diri relaks, pandang kenyataan di hadapan kita secara positif, karena dengan begitu kita bisa mengambil hikmah dari apa yang tengah dihadapi. Lalu pikirkan hal-hal yang dapat mengembalikan kegembiraan kita.
“Kalau ada masalah, relakslah. Santai saja. Pikirkan saja apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, dan apa tindakan Anda untuk itu,” kata Welty.
Memang, ada banyak hal yang menyakitkan, yang membuat kita cemas atau kesal. Namun jangan larutkan diri di dalamnya. Jangan biarkan masalah apa pun membuat kita patah semangat. Berpikirlah pada hal-hal positif yang bisa dilakukan. Biarkan semua masalah berlalu tanpa meninggalkan luka fatal.

Dengan begitu kita akan menjadi orang tangguh yang tak mudah jatuh. Pikiran kita menjadi terbiasa untuk selalu positif, dan kita akan lebih mudah mencapai cita-cita. Bukan cuma itu, pikiran positif serta kepercayaan diri kita akan menarik orang lain bergabung dengan kita. Mereka tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri menghadapi semua masalah. Malah dengan senang hati akan menemani dan membantu kita melewati semua kesulitan. Dan yang lebih penting, hidup kita akan menjadi lebih menyenangkan.

Sabtu, 22 Desember 2012

Ada 23 ciri-ciri Orang yang Mencitai Kamu




1. Orang yang mencintai kamu tidak pernah mampu memberikan alasan kenapa dia mencintai kamu. Yang dia tahu di hati dan matanya hanya ada kamu satu-satunya.

2. Walaupun kamu sudah memiliki teman istimewa atau kekasih, dia tidak perduli! Baginya yang penting kamu bahagia dan kamu tetap menjadi impiannya.

3. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, di hati dan matanya kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah bertambah.

4. Orang yang mencintai kamu selalu ingin tau tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, dia ingin tau kegiatan kamu.

5. Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan SMS seperti ’selamat pagi’, ’have fun’, ’selamat tidur’, ‘take care’, dan lain-lain, walaupun kamu tidak membalas SMS-nya, karena dengan kiriman SMS itu lah dia menyatakan cintanya, menyatakan dengan cara yang berbeda, bukan “aku CINTA padamu”.

6. Jika kamu merayakan tahun baru dan kamu tidak mengundangnya ke pesta yang kamu adakan, setidak-tidaknya dia akan menelefon untuk mengucapkan selamat atau mengirim SMS.

7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah melupakannya, karena saat-saat itu ialah saat yang berharga untuknya. dan saat itu, matanya pasti berkaca. karena saat bersamamu tidak selalu terulang.

8. Orang yang mencintai kamu selalu mengingat setiap kata-kata yang kamu ucapkan, bahkan mungkin kata-kata yang kamu sendiri lupa pernah mengungkapkannya. karena dia menyematkan kata-kata mu di hatinya, berapa banyak kata-kata penuh harapan yang kau tuturkan padanya, dan akhirnya kau musnahkan? pasti kau lupa, tetapi bukan orang yang mencintai kamu.

9. Orang yang mencintai kamu akan belajar menggemari lagu-lagu kegemaran kamu, bahkan mungkin meminjam CD milik kamu, karena dia ingin tahu apa kgemaran kamu – kesukaan kamu kesukaannya juga, walaupun susah menggemari kesukaan kamu, tapi akhirnya dia bisa.

10. Kalau kali terakhir kalian bertemu, kamu mungkin sedang sakit, dia akan sentiasa mengirim SMS atau menelefon untuk bertanya keadaan kamu – karena dia khawatir tentang kamu, peduli tentang kamu.

11. Jika kamu mengatakan akan menghadapi ujian, dia akan menanyakan kapan ujian itu berlangsung, dan saat harinya tiba dia akan mengirimkan SMS ‘good luck’ untuk memberi semangat kepada kamu.

12. Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu ialah sesuatu yang biasa, tetapi baginya barang itu sangat istimewa.

13. Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat, ketika sedang bercakap di telefon dengan kamu, sehingga kamu menjadi bingung. Sebenarnya saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah menggetarkan dunianya.

14. Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekat kamu dan ingin menghabiskan hari-harinya hanya dengan kamu.

15. Jika suatu saat kamu harus pindah ke daerah lain, dia akan senantiasa memberikan nasihat agar kamu waspada dengan lingkungan yang mungkin membawa pengaruh buruk terhadap kamu. dan jauh dihatinya dia benar-benar takut kehilangan kamu, pernah dengar ‘jauh dimata, dekat dihati?’

16. Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.

17. Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal yang bikin BETE, seperti menelefon kamu 100 kali sehari. Atau mengejutkan kamu di tengah malam dengan mengirim SMS. Sebenarnya ketika itu dia sedang memikirkan kamu.

18. Orang yang mencintai kamu kadang-kadang merindukan kamu dan melakukan hal-hal yang membuat kamu pening. Namun ketika kamu mengatakan tindakannya itu membuat kamu terganggu dia akan minta maaf dan tak akan melakukannya lagi.

19. Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dgn sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia!. bahkan dia begitu gembira karena dapat membantu kamu. dia tidak pernah mengelak dari memenuhi permintaan kamu walau sesulit apapun permintaan itu.

20. Kalau kamu melihat handphone-nya maka nama kamu akan menghiasi sebagian besar INBOX-nya. Dia masih menyimpan SMS-SMS dari kamu walaupun ia kamu kirim berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. Dia juga menyimpan surat-surat kamu di tempat khas dan segala pemberian kamu menjadi benda-benda yang berharga buatnya.

21. Dan jika kamu coba menjauhkan diri darinya atau memberi reaksi menolaknya, dia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupan kamu, walaupun hal itu membunuh hatinya.

22. Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan dia akan ada menunggu kamu karena sebenarnya dia tak pernah mencari orang lain. Dia sentiasa menunggu kamu.

23. Orang yang begitu mencintaimu, tidak pernah memaksa kamu memberinya sebab dan alasan, walaupun hatinya meronta ingin mengetahui, karena dia tidak mau kamu terbebani karenanya. saat kau pinta dia pergi, dia pergi tanpa menyalahkan kamu, karena dia benar-benar mengerti apa itu cinta.

www.beritaunik.net

Rabu, 21 November 2012

Gemuk Itu ''Meyehatkan''


Orang zaman sekarang sering merasa tidak percaya diri kalu mereka kegemukan, taoi fakta berkata lain. Orang yang memiliki berat batan berlebih atau obesitas cenderung bahagia dari pada orang kurus, ini di buktikan oleh para peneliti.

Para peneliti dari McMaster University of Canada menemukan gen lemak FTO pada oarang yang bertubuh gemuk, sekaligus gen ini memberikan efek bahagia pada orang tersebut. ini membuat orang yang memiliki gen ini cenderung susah untuk depresi.
Pada awalnya tim dari Kanada itu ingin meneliti tentang genetik dan status psikiatri para pasien yang mengikuti studi EpiDREAM. Dalam studi ini dianalisis 17.200 contoh DNA dari para partisipan di 21 negara.


Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa orang yang memiliki gen FTO yang lebih bayak cenderung susah untuk depresi dari pada orang kurus. Penurunan risiko depresi pada orang yang memiliki gen tersebut sekitar 8 persen.


"Memang perbedaan 8 persen tak akan berpengaruh banyak pada aktivitas harian pasien, tetapi kami menemukan molekul baru yang terkait dengan depresi," kata Profesor David Meyre.


Studi yang dilakukan Meyre merupakan studi pertama yang mengaitkan antara gen obesitas FTO dengan perlindungan terhadap depresi. Jadi tidk selamanya memiliki tubuh gemuk itu memberi dampak negatif.


dailymail 

Sabtu, 17 November 2012

mengenal sosok Ahmad al-Jaabari


Ahmad al-Jaabari anggota peringkat tinggi sayap bersenjata gerakan Hamas syahid (Insya Allah) dibunuh Rabu lalu oleh serangan udara Israel yang kemudian memicu aksi protes kemarahan di Kota Gaza, dengan ratusan anggota gerakan Hamas Palestina Islam dan sayap bersenjatanya – Brigade Izzuddin Al-Qassam – meneriakkan seruan untuk membalas dendam.

Dalam sebuah pernyataan, Brigade Izzuddin Al-Qassam mengatakan pembunuhan Jabaari telah “membuka gerbang neraka” bagi Israel dan bersumpah mereka akan melanjutkan jalan perlawanan.
Badan intelijen dalam negeri Israel Shin Bet menegaskan bahwa mereka memang menargetkan Jaabari dalam serangan bersama dengan tentara IDF, karena Jabaari dianggap secara langsung bertanggung jawab untuk melaksanakan serangan “teror” ke Israel. Jaabari sendiri sebenarnya sosok yang low profile, jarang difoto dan menghindari diwawancarai. Tapi kesepakatan untuk menjamin pembebasan tentara Israel Gilad Shalit membawanya keluar dari bayang-bayang low profilenya pada tahun lalu.


Dia membiarkan dirinya tertangkap kamera pada 18 Oktober 2011 pada saat ia menyampaikan Shalit ke Mesir sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan kunci dengan negara Yahudi tersebut. Rekaman itu disiarkan langsung di seluruh dunia, dan menunjukkan Jaabari dalam pakaian sipil, dengan kacamata di saku kemejanya, saat ia berjalan membawa Shalit ke mobil.

Jaabari berasal dari keluarga aktivis yang dihormati di lingkungan Shejaiya Kota Gaza, di mana rekan dekatnya Abu Huzaifa menggambarkan dia sebagai sosok yang percaya diri dalam membuat keputusan sendiri dan berkomitmen untuk menindaklanjuti secara pribadi pada isu-isu yang ada.

Lulusan sejarah dari Universitas Islam Gaza, Jaabari ditangkap oleh Israel pada tahun 1982 ketika ia masih menjadi seorang aktivis Fatah, gerakan nasional sekuler Palestina yang telah lama menjadi saingan Hamas. Selama di penjara Israel, ia bertemu dengan beberapa pemimpin tertinggi Hamas, seperti Abdul Aziz al-Rantisi, Ismail Abu Shanab, Nizar Rayyan dan Shalah Syuhada dan memutuskan untuk bergabung dengan gerakan Hamas.

Syuhada memimpin brigade Izzuddin Al-Qassam sampai ia syahid (insya Allah) dalam serangan udara besar-besaran Israel pada bulan Juli 2002, setelah itu posisinya digantikan oleh Muhammad Daif.

Beberapa bulan kemudian, Daif terluka parah dalam serangan lain Israel, meninggalkan Jaabari sebagai kepala operasional dari gerakan bersenjata Hamas pada puncak intifada kedua.

Dikenal di Gaza sebagai “jenderal” atau “kepala staf,” Jaabari sesekali bisa terlihat berjalan sendirian di jalan-jalan kota Gaza. Namun, sebagai salah satu sosok teratas dalam daftar paling dicari Israel, Jaabari sangat berhati-hati terkait keamanan pribadinya.

Jaabari sebelumnya telah menjadi target lebih dari sekali usaha pembunuhan Israel, termasuk serangan udara 2004 yang menewaskan anak tertuanya Muhammad, bersama dengan saudaranya dan beberapa sepupunya. Dia juga ditargetkan oleh pasukan keamanan Palestina, yang menangkapnya pada tahun 1998 dan menahannya selama hampir dua tahun karena kegiatannya dengan Syuhada dan Daif.

Setelah Jaabari mengambil alih menjalankan operasi harian Brigade Al-Qassam, kelompok bersenjata tersebut menjadi semakin profesional. Selain peran kepemimpinannya di brigade Izzuddin Al-Qassam, Jaabari adalah anggota dari kepemimpinan politik gerakan dan pendiri Nur, sebuah asosiasi untuk membantu para syuhada dan tahanan Palestina. Dia memiliki dua istri, termasuk salah satu istrinya adalah anak dari mentornya, Shalah Syuhada.

Jumat, 02 November 2012

Dasar Revormasi Pendidikan di Indonesia



Empat belas tahun lalu, bumi Indonesia berkobar api reformasi. Reformasi yang didengungkan dan disulut begitu menjajikan itu bahkan telah mengalungkan sebuah kalung pahlawan reformasi. Tetapi apakah gaung reformasi itu masih terdengar hingga sekarang, ataukah hanya gebrakan sesaat untuk menghancurkan republik otoritarian Indonesia di bawah pimpinan sang diktator Soeharto (orde baru). Konsistensi dalam melaksanakan reformasi dalam segala bidang termasuk pendidikan rasanya patut dipertanyakan.

Indonesia semakin terpuruk, meskipun ditutup oleh sebuah topeng kemajuan yang menggambarkan Indonesia sudah lebih baik dibandingkan masa orde baru. Padahal dibalik topeng itu ada sekian banyak daftar masalah (list problem) yang belum terselesaikan. Lihat saja kasus-kasus yang terjadi akhir-akhir ini, korupsi merajalela dalam setiap elemen birokrasi dan sepertinya sudah menjadi warisan genetik yang diturunkan oleh seorang bapak kepada anaknya. Rasa kebangsaan yang semakin terkikis, nilai-nilai Pancasila diabaikan, tenggang rasa antar SARA (Suku, Agama dan Ras) semakin berkurang hingga muncul pertikaian antar SARA. Rasa hormat kepada pemimpin pun tidak ada lagi ditambah pemimpinnya korup. Muncul gerakan separatis yang akhir-akhir ini dikabarkan jaringannya sudah mengakar di anggota dewan dan para petinggi pemerintah, gerakan ini menamakan dirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tidak ketinggalan juga kasus suap yang menyelimuti para hakim dan jaksa membuktikan lemahnya penegakkan hukum di Indonesia. Itulah secuil dari sederet list problem di Indonesia yang akhir-akhir ini menjadi senter pemberitaan di media masa.

Permasalahan Indonesia sudah semakin divergen, belum lagi masalah derasnya arus globalisasi yang mau tidak mau bangsa ini harus mengikutinya. Rasanya pun sulit bangsa Indonesia merampungkan sederet list problem yang ada. Namun akankah kita biarkan Indonesia semakin terpuruk dan perlahan-lahan hancur?, hancur karena digerogoti oleh sistemnya sendiri dan oleh bangsanya sendiri. Tentunya tidak, kita sebenarnya sudah tersadar namun belum tergerak. Reformasi tiga belas tahun lalu telah mengawali start, namun sepertinya kita belum banyak melangkah jauh dari garis start, atau bahkan kita masih stagnan di garis start. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” itulah kata-kata yang harus kita pegang, kita belum terlambat untuk memutar lagi roda kehidupan bangsa ini yang sepertinya sudah melenceng jauh dari track yang diharapkan oleh the founding fathers.
Berbicara tentang penyelesaian, tentunya kita harus mengetahui akar
permasalahan dari semua problematika yang kita hadapi. Maka semua problematika itu berakar pada sistem pendidikan Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa suatu negara akan mengalami kemajuan, moral bagus dan kokoh bila pendidikan bangsanya baik. Kata-kata itu sepertinya patut kita resapi, dan kita perlu segera bercermin dan mengevaluasi bagaimana dengan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan memang kunci utama untuk memperbaiki negeri ini, karena manusia-manusia Indonesia akan menjadi manusia yang seutuhnya melalui pendidikan. Pendidikanlah yang membentuk karakter bangsa ini. Jika sitem pendidikan Indonesia telah baik maka produknya (sumber daya manusia) pun juga akan baik bukan melahirkan manusia-manusia yang cerdas namun licik.

Sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah sudahkah pendidikan Indonesia sudah sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 (cita-cita bangsa Indonesia) atau malah ‘amburadul’? Indonesia harusnya belajar dari negara lain yang sudah maju lebih dulu, mereka sangat memprioritaskan pendidikan. Sehingga negara maju pasti berawal dari pendidikannya yang maju pula. Hal ini jelas membuktikan bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai sumber daya manusia yang unggul dan bermoral tinggi.

Menurut pasal 1 ayat 1 Undang – Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Prof. Dr. N. Drijarkara, pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. Pengertian ini mengandung makna bahwa manusia yang belum mengalami proses pendidikan, maka manusia itu belum bisa dikatakan manusia seutuhnya atau sesungguhnya. Sehingga setiap manusia harus mendapatkan pendidikan dalam hidupnya.

Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Berdasarkan pada Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab 2 pasal 3, Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berikut Potret Pendidikan di Indonesia yang merupakan masalah dan menjadi PRbangsa ini.

1. Pendidikan yang Amburadul
Sejak reformasi tahun 1998, pendidikan di Indonesia tidak mengalami banyak perbaikan, tetapi malah banyak penyelewengan dari UUD 1945 sebagai landasan konstitusional dan Pancasila sebagai landasan idiil negara. Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi cita-cita itu sepertinya hanya sebatas khayalan atau sebatas kata-kata yang dibekukan dalam pembukaan tanpa usaha dan perenanaan yang jelas.
Bangsa ini bisa dikatakan bangsa yang plin plan, berapa kali kurikulum pendidikan diganti?, belum juga jelas bagaimana pelaksanaan dari suatu kurikulum
tertentu, tetapi pemerintah sudah mengganti dengan kurikulum yang baru. Ibaratnya warga di Papua baru akan melaksanaan kurikulum baru, di Jakarta sudah ganti dengan kurikulum yang baru lagi. Inilah yang membuat pendidikan di Indonesia terkesan amburadul, pendidikan dilaksanakan di atas kerangka pendidikan yang arah dan tujuannya tidak jelas. Kurikulum pendidikan hanya terkesan disusun untuk Jakarta, daerah-daerah lain serasa tidak diperhatikan kebutuhannya lebih-lebih yang diluar Jawa.

Pendidikan ibaratnya sebagai alat dalam berpolitik, setiap pergantian pemimpin (dalam hal ini adalah menteri pendidikan) maka kurikulum pun juga diganti. Sehingga pendidikan terombang-ambing dan seolah-olah sebagai ajang pertandingan ide baru. Mereka, para petinggi politik seakan-akan adu ide siapa yang lebih baik dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.

2. Produk Pendidikan yang Gagal
Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Pedidikan tidak mampu membentuk karakter bangsa yang baik, pendidikan tidak mampu membentuk manusia yang sehat secara jasmani dan rohani. Pendidikan di Indonesia belum bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin bangsa yang bias dijadikan teladan.

Korupsi, kasus suap yang melibatkan hakim, gerakan separatis, kekerasan, kejahatan, terorisme, rasa kebangsaan hilang, pertikaian SARA dan kasus ainnya, membuktikan bahwa produk pendidikan di Indonesia gagal. Pendidikan
menciptakan monster, bukan master.

Pendidikan di Indonesia terkesan hanya sebatas pendidikan dilihat dari aspek kognitif, sehingga mengagung-agungkan kecerdasan tanpa memperhatikan akhlak. Padahal pendidikan juga harus meliputi aspek psikomotorik dan afektif. Pendidikan seharusnya membentuk akhlak yang baik, rasa cinta tanah air, sadar budaya, tanggung jawab, dan tenggang rasa, tetapi malah sebaliknya.

Gayus Tambunan, Melinda De, M. Nazarudin, Nunun Nurbaiti, Jaksa Urip, Hakim Supriyadi, Amrozi, Dr. Azhari, Nurdin M. Top, dan tokoh-tokoh lain yang beberapa tahun terakhir ini acap kali muncul di pemberitaan yang tidak baik adalah orang-orang yang cerdas, tetapi mereka tidak berakhlak, karakter mereka buruk sehingga kecerdasannya bukan untuk membangun bangsa tetapi merusak bangsa.

3. Reformasi atau Liberalisasi
Gerakan Reformasi tahun 1998 sebenarnya telah mengagendakan tentang perbaikan sistem pendidikan di Indonesia, agenda tersebut antara lain;

1. Memetakan paradigma baru dalam pendidikan,
2. Menetukan arah dan sasaran pendidikan Indonesia,
3. Pembenahan infrastruktur guna menunjang keberhasilan proses pendidikan,
4. Membenahi birokrasi pendidikan,
5. Menjadikan pendidikan sebagai isu politik,
6. Memetakan sistem desentralisasi pendidikan secara jelas dengan UU system pendidikan yang relevan,
7. Meningkatkan dana pendidikan,
8. Meningkatkan mutu, efisiensi, dan efektivitas pengelolaan dan tenaga kependidikan,
9.  Membenahi sistem manajemen pendidikan nasional,
10. Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan,
11. Mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Dari agenda tersebut di atas, sebenarnya reformasi pendidikan bertujuan
sangat baik dan mulia. Namun, sampai saat ini reformasi itu hanya sebuah gebrakan sesaat saja tanpa ada konsistensi dalam upaya mewujudkannya. Sehingga sampai saat ini masalah pendidikan tak kunjung usai.

Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa reformasi ini sudah dilaksanakan namun reformasi yang kebablasan. Bukan perbaikan tetapi malah meliberalkan pendidikan. Banyak kasus yang terjadi sehingga bisa dikatakan pendidikan Indonesia semakin liberal, bukan adil dan merata, bukan pendidikan yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

1. Biaya Pendidikan Semakin Mahal
Tidak bisa dipungkiri, setiap pergantian tahun ajaran baru, sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi berlomba-lomba untuk menaikkan tarif baru. Bagi masyarakat kalangan atas, hal itu mungkin bukan menjadi suatu masalah, lalu bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah. Tentunya hal ini semakin memberatkan mereka, bahkan membuat mereka untuk tidak menyekolahkan
anaknya. Lalu bagaimana nasib bangsa ini jika rakyat kecil semakin tersisih, pendidikan bagi mereka bisa jadi suatu barang yang mewah (tersier). Menurut berita di detik.com yang ditulis pada tanggal 16 Desember 2010 lalu dan dikutip oleh situs hileud.com menerangkan bahwa rata-rata siswa SD putus sekolah per tahun adalah 1,7 % dari lebih kurang 31,05 juta siswa SD. Di Kabupaten Kediri yang jumlah lulusan SD tahun 2010 lalu mencapai dua puluh empat ribu, sekitar 6% tidak melanjutkan ke jenjang SMP karena keterbatasan ekonomi, hal ini seperti berita yang dirilis di situs bonansafm.com. Sungguh memprihatinkan, pendidikan yang menurut UUD 1945 pasal 31 ayat 2 merupakan tanggung jawab negara, malah menjadi beban yang tak kunjung ringan bagi masyarakat bawah.

Di sinilah nampak kesan bahwa pendidikan sepertinya hanya untuk golongan tertentu saja. Bagi yang bermodal banyaklah yang bisa mendapatkan pendidikan, sementara masyarakat kecil semakin terpinggir.

2. Rintisan Sekolah Berbasis Internasional
Upaya pemerintah untuk memperbaiki pendidikan nasional salah satunya adalah dengan membuat program Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). Program ini kesannya bagus, karena di era globalisasi ini pendidikan juga harus diarahkan untuk lebih maju menuju internasionalisasi. Namun, ada yang keliru dari program ini, karena RSBI dianggap sekolah bertarif mahal. Bahkan ada yang memplesetkan RSBI sebagai Rintisan Sekolah Bertarif Internasional. Lagi-lagi program ini menunjukkan betapa semakin liberalnya pendidikan di negara ini. Bagi masyarakat menengah ke bawah untuk mengikuti pendidikan yang regular saja sudah susah bahkan gali lubang tutup lubang apalagi mengikuti sekolah yang bertarif internasional. Pemerintah pun segera menyadari akan hal itu, namun pemerintah juga tidak berani bertindak banyak. Meskipun pemerintah menekankan pada sekolah untuk memberi kesempatan pada siswa tidak mampu namun berprestasi masuk program RSBI ini dengan keringanan biaya, tetapi tetap saja tidak efektif, karena ada beberapa faktor yang menghambatnya. Diantaranya beberapa sekolah keberatan melaksanakannya, siswa yang dari keluarga tidak mampu minder karena sebagian besar teman-teman dalam satu kelasnya adalah anak-anak orang kaya dan sebagainya. Pemerintah seharusnya bertindak tegas menangani masalah ini, misalnya dengan membuat peraturan bahwa 50% dari kelas RSBI adalah siswa-siswa dari keluarga yang tidak mampu dengan tanpa biaya atau gratis. Karena jika tidak, RSBI ini bisa dianggap sebagai ketidak adilan dan diskriminasi pemerintah dalam dunia pendidikan. Dan ini berarti suatu penyelewengan sila ke lima pada Pancasila.


3. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Merupakan model pengelolaan pendidikan yang yang memberikan otonomi atau kemandirian Kepala Sekolah dan mendorong keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung peran komite sekolah /dewan sekolah. Model pengelolaan ini sebenarnya bertujuan bagus dalam upaya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.
Tujuan MBS:
. Meningkatkan mutu pendidikan
. Meningkatkan kepedulian masyarakat
. Meningkatkan tanggung awab sekolah kepada masyarakat
. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar lembaga pendidikan
Manfaat MBS:
. Sekolah dapat mengoptimalkan SDM yang tersedia
. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya
. Keputusan Partisipatif,
. Penggunaan P3D efisien dan efektif
. Manajemen sekolah lebih Transparansi, akuntabilitas
. Kompetisi sehat , mudah merespon kebutuhan masyarakat

Jika dilihat dari tujuan dan manfaatnya program ini sungguh bagus, namun dalam praktiknya terkadang bertolak belakang. Hal ini banyak terjadi di sekolah sekolah, MBS sering digunakan sebagi ladang bisnis dari sekolah. Dalam MBS, biasanya komite sekolah mengadakan rapat dengan sekolah beserta orang tua / wali murid
pada tahun ajaran baru, lalu orang tua disodori kertas daftar kebutuhan sekolah yang begitu banyak dan memerlukan dana yang besar. Biasanya komite berdalih jika siswa-siswi ingin sekolah di sini dan mendapat fasilitas yang memadai maka mau tidak mau harus menyetujui program yang disusun dalam kertas tersebut. Sungguh memprihatinkan, seharusnya MBS menjadi suatu solusi penanganan pendidikan sekolah tetapi malah menjadi ajang kongkalikong antara kepala sekolah dan pengurus komite.

Dari uraian permasalahan di atas, maka perlu suatu solusi untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut. Karena masalah pendidikan adalah masalah yang sangat esensial bagi bangsa ini. Pendidikan berkaitan dengan aspek kehidupan yang lain dalam hidup berbangsa dan bernegara, maka jika pendidikan di Indonesia sudah baik dan maju maka pembangunan nasional akan berjalan lancar, karena hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Maka solusi untuk masalah tersebut adalah kita kembali ke agenda reformasi pendidikan yang selama ini diabaikan. Melanjutkan agenda tersebut secara bersama-sama, karena reformasi pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia yang ingin bangsa dan negaranya menjadi lebih baik.

Akhirnya saya menyimpukan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan, pendidikan belum banyak berperan dalam pembangunan nasional, reformasi yang diawali pergerakkannya pada tahun 1998 belum banyak membawa perubahan, bahkan gerakan reformasi itu terkesan hanya sebuah gebrakan sesaat. Kembali ke jalur yang benar dengan meneruskan agenda reformasi adalah suatu kewajiban seluruh warga negara Indonesia agar Indonesia menjadi lebih baik.

cara menjadi guru yang "menarik" bagi siswa



Siapa yang tak ingin dicintai orang lain? Disayangi orang lain adalah dambaan setiap orang. Menandakan bahwa sahabatnya banyak. Hubungan silaturahmi yang selalu dipupuk, akan melahirkan cinta kasih dengan sesama.

Idaman seorang guru adalah, apabila transfer ilmu berhasil dengan sukses. Tanpa tekanan. Tanpa ancaman. Siswa dapat menerima secara utuh pengetahuan yang diberikan oleh guru. Bahkan bisa mempraktekkan dan mengembangkan ilmu.

Namun apakah semua guru mampu melakukan seperti itu? Apakah siswa juga bias menerima dengan baik? Prasyarat terjadinya alih informasi ada dua yaitu : Pemberi dan Penerima. Pemberi, memberikan informasi kepada penerima lewat media. Transformasi pengetahuan dapat berjalan dengan baik, manakala antara pemberi dan penerima telah siap dengan segala kondisi sesuai fungsi masing-masing. Guru siap dengan materi dan metodenya, siswa siap melihat dan mendengarkan.

Ada syarat non teknis yang perlu diketahui oleh guru, agar siswa tertarik dengan kepribadian yang dimiliki oleh seorang guru. Faktor non teknis ini acap kali kadang menjadi penentu seorang siswa memperhatikan mata pelajaran dengan seksama atau justru akan mengganggu jalannya pelajaran.
1. Menyapa.
Siswa yang disapa secara pribadi, akan menimbulkan rasa empati. Artinya, keberadaan siswa di kelas diakui dan diperhatikan. Guru menyapa siswa, mungkin tak ada kaitannya dengan keluarga. Namun menanyakan kabar Bapak, Ibu, atau saudaranya, sangat cukup membuat siswa diperhatikan.

Ajakan bergurau akan membuat kondisi kelas selalu dinamis. Sesekali nembak siswa, tapi jangan sampai hati terluka. Membandingkan keadaan antar keluarga juga bisa dilakukan, sebatas informative dan sedikit candaan.

 2. Berpakian yang bersih dan rapi
Jenis pakaian dan cara berpakaian seorang guru sangat diperhatikan oleh siswa. Mungkin guru tidak terlalu peduli dengan pakian yang dikenakan. Selain jenis pakaian seragam yang tidak terlalu nyaman, terkadang pakaian disetrika dengan sembarangan. Sehingga muncul dua garis. Dipandang sangat tidak elok.

Bila cara berpakian seorang guru sembarangan, seperti tidak rapi, kombinasi warna yang norak, apalagi berbau, yang pertama kali terjadi adalah siswa tidak respek. Bagaimana mungkin akan terjadi transfer ilmu, manakala penerima (siswa) tidak peduli dengan kondisi pemberi (guru).

3. Wajah Berseri.
Senyum dengan orang lain akan mendapat pahala. Senyum akan memberi kesan seorang peramah. Seorang peramah memiliki banyak sahabat. Seorang peramah enak diajak bicara dan senang mendengarkan orang lain.

Senyum harus dimiliki seorang guru, meskipun hatinya sedang gundah. Langkah pertama memasuki ruang kelas, mesti diikuti dengan wajah yang ceria. Sebagaimana seorang penyiar. Dalam kondisi sedang duka sekalipun, penyiar selalu menyapa pendengar dengan ramah dan selalu mengundang senyum.

 4. Menyuruh Siswa
Dulu, siswa berebut membawakan tas seorang guru, sesaat setelah turun dari sepeda. Sekarangpun siswa paling senang disuruh guru mengambilkan barang tertentu yang tertinggal di ruang guru, atau mengambilkan alat tulis di ruang administrasi. Namun, siswa paling tidak suka disuruh mengambilkan barang yang tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran.

Selasa, 30 Oktober 2012

menguak tragedi Simpang Beutong Ateuh (23 Juli 1999) di aceh


Selain menguras habis kekayaan alam Aceh, rezim Suharto juga melancarkan genosida atas Muslim Aceh. Yang terkenal adalah masa DOM atau Operasi Jaring Merah (1989-1998). Banyak peneliti DOM sepakat jika kekejaman rezim ini terhadap Muslim Aceh bisa disetarakan dengan kekejaman yang dilakukan Milisi Serbia terhadap Muslim Bosnia di era 1990-an. Wilayah NAD yang sangat luas, sekujur tanahnya dijadikan kuburan massal di sana-sini. Muslim Aceh yang berabad-abad hidup dalam izzah Islam, dihinakan oleh rezim fasis Suharto serendah-rendahnya.

Jika Kamboja di bawah rezim Pol Pot dikenal memiliki The Killing Fields atau Ladang pembantaian, maka di Aceh dikenal pula Bukit Tengkorak. Di Aceh, jumlah ladang pembantaian yang besar ada 35 titik, ini jauh lebih banyak ketimbang ladang pembantaian yang ada di Kamboja.

Begitu banyak pameran kekejaman dan kebiadaban yang ditimpakan terhadap Muslim Aceh oleh rezim Suharto, sehingga jika dijadikan buku maka bukan mustahil, riwayat Tragedi Aceh akan menyamai tebalnya jumlah halaman koleksi perpustakaan Iskandariyah sebelum dibakar habis pasukan Mongol.

Dari jutaan kasus kejahatan HAM di Aceh, salah satunya adalah tragedi yang menimpa Tengku Bantaqiah, pemimpin Dayah (Pondok Pesantren) Babul Nurillah di Beutong Ateuh pada 23 Juli 1999. Ironisnya, walau secara resmi DOM sudah dicabut, namun kekejaman dan kebiadaban yang menimpa Muslim Aceh tidaklah surut. Tragedi yang menimpa Tengku Bantaqiah dan santrinya merupakan bukti.

Lengsernya Suharto pada Mei 1998 tidak berarti lengsernya sistem dan tabiat kekuasaan represif ala Orde Baru. Para presiden setelah Suharto seperti Habbie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono, semuanya pada kenyataannya malah melestarikan sistem Orde Baru ini. Salah satu buktinya adalah KKN yang di era reformasi ini bukannya hilang namun malah tetap abadi dan berkembang penuh inovasi.

Sebab itulah, dicabutnya status DOM di Aceh pada 1998 tidak serta-merta tercerabutnya teror dan kebiadaban yang selama ini bergentayangan di Aceh. Feri Kusuma, salah seorang aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Aceh menulis secara khusus tentang Tragedi Tengku Bantaqiah ini. Dalam artikel berjudul ‘Jubah Putih di Beutong Ateuh’, Feri mengawali dengan kalimat, “Beutong Ateuh memiliki sejarah yang cukup panjang. Daerah ini dibangun sejak masa kolonial Belanda, begitu orang Beutong bersaksi. Kecamatan Beutong Ateuh terdiri dari empat desa yaitu Blang Meurandeh, Blang Pu’uk, Kuta Teungoh dan Babak Suak. Kondisi geografisnya cocok untuk bersantai sambil menikmati  panorama alam yang indah. Di daerah yang terletak di antara dua gunung ini mengalir sungai Beutong yang sejuk dan jernih. Pegunungannya yang mengelilingi Beutong Ateuh termasuk gugusan Bukit Barisan…”

Eramuslim yang pernah mengunjungi hutan belantara ini di tahun 2001, dua tahun setelah tragedi, menjumpai kondisi yang sangat mengenaskan. Bukan saja di Beutong Ateuh, namun juga nyaris di seluruh wilayah Aceh. Kemiskinan ada di mana-mana, padahal tanah Aceh adalah tanah yang sangat kaya raya dengan sumber daya alamnya. Jakarta telah menghisap habis kekayaan Aceh!

Beutong Ateuh terletak di perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Barat. Dari Ule Jalan ke Beutong Ateuh, kita akan melewati pos kompi Batalyon 113/Jaya Sakti yang terletak di areal kebun kelapa sawit. Di areal kompi ini, tepatnya di gapura, terpasang papan pengumuman berisi tulisan “TEMPAT LATIHAN PERANG TNI”. Sekitar 10 kilometer dari kompi itu terpancang sebuah petunjuk jalan yang bertuliskan “SIMPANG CAMAT”; tanda menuju ke sebuah pemukiman. Namun tidak ada sebuah rumah pun di daerah ini. Sejauh mata memandang hanya tampak rerimbunan pohon besar di atas bukit dan jurang yang menganga. Tak heran jika hutan Cut Nyak Dien dan pasukannya memilih hutan ini sebagai pertahanan terakhir.

Walau berjarak lebih kurang 15 kilometer dari hutan ini, namun Kecamatan Beutong Ateuh tidak berbeda dengan hutan Simpang Camat. Di tengah-tengah hutan, kain putih usang terlihat berkibaran di areal Dayah. Kubah mushola, atap beberapa rumah, dan bilik pengajian yang berhadapan langsung dengan sungai Beutong terlihat jelas.

Tengku Bantaqiah mendirikan pesantren di desa Blang Meurandeh pada 1982 dan memberinya nama Babul Al Nurillah. Abu Bantaqiah, begitu para murid memanggilnya, adalah alim ulama yang disegani dan dihormati. Disini, Dayah Babul Al Nurillah mengajarkan ilmu agama, seni bela diri, dan juga berkebun dengan menanam berbagai macam sayuran untuk digunakan sendiri.

Kegiatan di Dayah ini tidak berbeda dengan pesantren lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Selain mereka yang menetap di Dayah, ada pula orang-orang yang sengaja datang dan belajar agama untuk mengisi libur kerja atau sekolah. Jumlahnya lebih banyak daripada santri yang tinggal di pesantren.

Di Dayah ini, para santrinya kebanyakan adalah mereka yang pernah melakukan tindakan-tindakan tak terpuji di masyarakat seperti mabuk-mabukan, mencuri atau kejahatan lain yang merugikan dirinya sendiri maupun orang banyak. “Menurut Tengku Bantaqiah, untuk apa mengajak orang yang sudah ada di dalam masjid, justru mereka yang masih di luar masjidlah yang harus kita ajak. Itulah dasar dari penerimaan orang-orang seperti mereka tadi menjadi murid di sini,” tulis Feri Kusuma.

Bantaqiah adalah ulama yang teguh pendirian, sederhana, dan tidak goyah dengan godaan dunia. Baginya, dunia ada di dalam genggamannya, bukan di hatinya. Mungkin sebab itu dia pernah menolak bergabung sebagai anggota MUI cabang Aceh. Bantaqiah juga tidak bersedia masuk ke dalam partai politik mana pun. Baginya, Partai Allah sudah lebih dari cukup, tidak untuk yang lain. Sebab itu, Bantaqiah sering difitnah oleh orang yang berseberangan dengan dirinya. Ia dituduh mengajarkan kesesatan dan pada 1985 dicap dengan sebutan Gerombolan Jubah Putih.

Pemerintah Aceh berusaha melunakkan sikap Bantaqiah dengan membangunkan sebuah pesantren untuknya, namun lokasinya di kecamatan Beutong Bawah, jauh dari Babul Al Nurillah. Ini membuatnya menolak “pesantren sogokan” tersebut. Hal ini membuat hubungan Bantaqiah dengan Pemerintah setempat kurang harmonis. Dia dituduh sebagai salah satu petinggi GAM pada 192 dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman 20 tahun.

Ketika Habibie menggantikan Suharto dan menyempatkan diri ke Aceh, Bantaqiah dibebaskan. Namun hal ini rupanya tidak berkenan di hati tentara hasil didikan rezim Suharto.

Di mata tentara, Bantaqiah adalah sama saja dengan kelompok-kelompok bersenjata Aceh yang tidak mau menerima Pancasila. Sebab itu keberadaannya harus dienyahkan dari negeri Pancasila ini. Para tentara Suharto itu lupa, berabad-abad sebelum Pancasila lahir, berabad-abad sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir, Nanggroe Aceh Darussalam sudah menjadi sebuah negeri merdeka dan berdaulat lengkap dengan Kanun Meukota Alam, sebuah konstitusi yang sangat lengkap. Bahkan jauh lebih lengkap ketimbang UUD 1945 yang diamandemen di tahun 2002.

Sebab itu, pada Kamis, 22 Juli 1999, pasukan TNI yang terdiri dari berbagai kesatuan seperti angkatan darat dan Brimob mendirikan banyak tenda di sekitar pegunungan Beutong Ateuh. Walau warga setempat curiga, karena pengalaman membuktikan, di mana aparat bersenjata hadir dalam jumlah banyak, maka pasti darah rakyat tumpah, namun warga tidak bisa berbuat apa-apa. Firasat warga sipil terbukti. Tiba-tiba di hari itu juga terjadi insiden penembakan terhadap warga yang tengah mencari udang. Satu luka dan yang satu lagi berhasil menyelamatkan diri masuk hutan. Teror ini meresahkan warga.



Sedari subuh keesokan harinya, Jumat pagi, 23 Juli 1999, TNI dan Brimob sudah bergerak diam-diam mendekati pesantren dengan perlengkapan tempur garis pertama, yang berarti senjata api sudah terisi amunisi siap tembak. Pukul 08.00 tentara dan Bribom sudah berada di seberang sungai dekat pesantren. Dengan alasan mencari GAM, pada pukul 09.00 mereka membakar rumah penduduk yang letaknya hanya 100 meter di timur pesantren. Satu jam kemudian, pasukan tersebut mulai bergerak ke pesantren. Dengan seragam tempur lengkap dengan senjata serbu laras panjang, wajah dipulas dengan cat kamuflase berwarna hijau dan hitam, mereka mengepung pesantren dan berteriak-teriak mencaci-maki Tengku Bantaqiah dan memintanya segera menemui mereka.

Menjelang waktu sholat Jumat, para santri biasa berkumpul dengan Tengku Bantaqiah guna mendengar segala nasehat dan ilmu agama. Mendengar teriakan dari tentara yang menyebut-nyebut namanya, Bantaqiah pun datang bersama seorang muridnya. Aparat bersenjata itu tidak sabaran. Mereka merangsek ke dalam dan memerintahkan semua santri laki-laki untuk berkumpul di lapangan dengan berjongkok menghadap sungai.

Aparat dengan suara keras dan mengancam meminta agar Bantaqiah menyerahkan senjata apinya. Tengku Bantaqiah bingung karena memang tidak punya senjata apa pun, kecuali hanya pacul dan parang yang sehari-hari digunakan untuk berkebun dan membuka hutan. Aparat tidak percaya dengan semua keterangan Bantaqiah. Sebuah antena radio pemancar yang terpasang di atap pesantren dijadikan bukti oleh aparat jika selama ini Bantaqiah menjalin komunikasi dengan GAM. Padahal itu antene radio biasa.

“Komandan pasukan memerintahkan agar antena tersebut dicopot, dengan menyuruh putra Bantaqiah yang bernama Usman untuk menaiki atap pesantren. Usman langsung berjalan menuju rumahnya untuk mengambil peralatan, namun sebelum ia mencapai rumah yang jaraknya hanya tujuh meter dari tempat tentara mengumpulkan para santri, seorang anggota pasukan memukul Usman dengan popor senapan,” tulis Feri Kusuma, aktivis Kontras Aceh, berjudul “Jubah Putih di Beutong Ateuh”.

Melihat anaknya terjatuh, secara refleks Bantaqiah berlari mendekatnya hendak menolong. Tiba-tiba tentara memberondongnya dengan senjata yang dilengkapi pelontar bom. Bantaqiah dan puteranya syahid. Dengan membabi-buta, aparat murid dari Jenderal Suharto ini mengalihkan tembakan ke arah kumpulan santri. Lima  puluh enam santri langsung syahid bertumbangan. Tanah Aceh kembali disiram darah para syuhadanya. Santri yang terluka dinaikkan ke truk dengan alasan akan diberi pengobatan dan yang masih hidup diminta berbaris lalu naik ke truk yang sama. Truk ini bergerak menuju Takengon, Aceh Tengah, yang berada di tengah rimba.

Di tengah perjalanan menuju Takengon, para santri diturunkan di Kilometer Tujuh. Mereka diperintahkan berjongkok di tepi jurang. Tiba-tiba salah seorang santri langsung terjun ke jurang dan menghilang dalam rimbunan hutan lebat di bawah sana. Para tentara mengguyur jurang itu dengan tembakan. Nasib para santri yang tersisa tak diketahui sampai kini. Kuat dugaan, para santri ini dibantai aparat Suharto dan dibuang ke jurang.

Sore hari, tentara memerintahkan warga setempat untuk menguburkan jasad yang ada. Para perempuan digiring menuju mushola yang ada di seberang sungai dan dilarang melihat prosesi penguburan. Aparat bersenjata ini kemudian mengamuk di pesantren. Mereka merusak dan menghancurkan semua yang ada, mereka membakar kitab-kitab agama termasuk kitab suci al-Quran dan surat Yasin yang ada di pesantren. Setelah puas membakar ayat-ayat Allah, aparat bersenjata didikan Suharto ini, kemudian kembali ke barak dengan sejumlah truk, meninggalkan warga yang tersisa yang hanya bisa menangis dan berdoa.

Setelah tragedi tersebut, warga Beutong Ateuh hanya bisa pasrah berdiam diri. Dengan segenap daya dan upaya, para santri yang tersisa—kebanyakan perempuan tua dan anak-anak kecil—membangun kembali pesantren tersebut dan meneruskan pendidikan dengan segala keterbatasan. Sampai kini, pesantren ini belum memiliki cukup dana untuk mengganti seluruh al-Quran, kitab-kitab kuning, dan surat-surat Yassin yang dibakar aparat. Juga barang-barang lain seperti seluruh pakaian, kartu tanda pengenal, dan sebagainya yang musnah terbakar. Sampai detik ini, tidak ada seorang pun pelaku pembantaian terhadap Tengku Bantaqiah dan santri Beutong Ateuh yang diseret ke pengadilan. Tidak ada satu pun komandan tentara yang dimintai pertanggungjawaban atas ulahnya membakar kitab suci Al-Qur’an dan surat Yassin, sampai hari ini. Para pelakunya masih bebas berkeliaran. Mungkin tengah menanti hukum Allah SWT atas ulah mereka. Sama seperti guru mereka: Jenderal Suharto.

Tragedi Beutong Ateuh hanyalah satu di antara jutaan tragedi kekejaman rezim Suharto terhadap Muslim Aceh. Anehnya, sampai detik ini tidak ada satu pun pejabat pemerintah, sipil maupun militer, yang terlibat kejahatan HAM sangat berat atas Muslim Aceh.

 sumber